Budaya Konsumtif

Sekarang ini, budaya konsumtif bisa dikatakan sudah merebak kemana-mana. Tidak peduli dia negara barat yang lebih maju ataupun negara timur yang masih berkembang, buruh yang gajinya pas-pasan maupun kaum elite dengan gaji tinggi, semuanya terjebak dalam suatu budaya tidak sehat yang berakal dari kapitalisme ini. Budaya konsumsi pelan tapi pasti sudah menjadi poros dari aktivitas kehidupan sosial kita.

Budaya seperti ini bisa tercermin dari kebiasaan kita untuk membeli barang dan jasa (komoditi) yg sebenarnya tidak begitu dibutuhkan, komoditi yg sebenarnya tidak memberi nilai tambah signifikan untuk perbaikan taraf hidup. Dalam masyarakat konsumsi  persepsi terhadap barang telah berubah dari sekedar kebutuhan yang memiliki nilai tukar dan nilai guna, berubah menjadi komoditas citra/gengsi, orang berbelanja selain karena ingin meraih kepuasan, tapi  juga karena mengharapkan citra tersendiri karena telah memiliki barang tersebut.

Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa budaya konsumerisme seperti ini bisa subur berkembang dimana-mana? Bagaimana sebenarnya konsumerisme menjebak kita untuk terus membeli dan membeli?

Mengapa Kita Sebagai Konsumen Mau Dimanipulasi untuk Terus Membeli Komoditi?

Banyak hal yang bisa turut mendorong kita berperilaku konsumtif seperti ini. Faktor seperti harga diri, gengsi, status sosial, ekonomi maupun pengaruh teman bisa menjadi penyebab munculnya keinginan kita untuk membeli suatu komoditi. Faktor-faktor tersebut bisa berpengaruh karena sebenarnya melalui aktivitas konsumsi inilah kita sebagai makhluk sosial mencerminkan identitas diri kita.

Manusia dalam sepanjang hidupnya tidak lepas dari pencarian identitas diri. Melalui apa yang kita konsumsi, kita menunjukkan bahwa kita bagian dari suatu komunitas tertentu, berstatus sosial tertentu. Dan dari sanalah kita merasa memperoleh identitas diri karena siapa diri kita merupakan hasil penilaian orang terhadap apa yang kita konsumsi.

Sebaliknya, ketika tidak mengkonsumsi suatu komoditi, kita menjadi tersingkir dari suatu komunitas tertentu dan akhirnya merasa kehilangan identitas diri. Melalui konsumsi itulah kita mendapatkan identitas diri sehingga kita pun menjadi mudah dimanipulasi untuk terus membeli komoditi.

Mengapa Asumsi Bahwa Kita Adalah Makhluk Rasional yang Bisa Melakukan Pilihan-Pilihan Melalui Kesadaran Budi yang Menimbang Terus-Menerus Kalah Terhadap Rayuan Iklan Komoditi?

Seperti yang dikatakan sebelumnya, budaya konsumtif berakal dari kapitalisme dan tujuan utama kapitalisme sendiri adalah mencari keuntungan dengan cara membuat kita terus berkonsumsi. Maka para kapitalis pun berusaha merubah paradigma kita berkonsumsi dari membeli karena butuh menjadi membeli karena keinginan. Karena dorongan membeli atas dasar kebutuhan akan berhenti ketika kebutuhan sudah terpenuhi, tetapi dorongan membeli atas dasar keinginan adalah tanpa batas.

Lalu melalui iklan-iklan di media televisi dan sebagainya, kapitalisme berusaha mempengaruhi kita untuk tidak hanya membeli berdasar daya guna sebuah produk, tapi lebih pada citra yg dibawa oleh produk tersebut, gengsi yang kita peroleh dari mengkonsumsi barang tersebut. Melalui iklan dengan intensitas yang tinggi kita pun terpropaganda hingga kehilangan kontrol terhadap pikiran atas apa yang layak/butuh dan tidak layak/butuh untuk dikonsumsi.

Mengapa Kesadaran Budi Kita Tidak Berdaya Menghadapi Banjir Visualisasi Eksotis Hingga Bila-Bila Tidak Membeli, Kita Tidak Bergengsi dan Merasa Tidak Modern?

Ketika sekelompok masyarakat/komunitas mulai terpengaruh dengan iklan komoditi yang begitu intensif, kita yang menjadi bagian dari masyarakat/komunitas tersebut pun ikut terseret di dalamnya. Karena sekali lagi, siapa diri kita merupakan penilaian orang lain. Ketika menurut masyarakat merek tertentu menunjukkan kelas sosial yang lebih tinggi, kita pun mau tidak mau mengkonsumsi merek tersebut jika ingin masuk dalam komunitas kelas sosial tersebut.

Begitu juga ketika masyarakat menilai bahwa membeli barang tertentu lebih bergengsi dan modern, kita pun merasa tidak bergengsi dan tidak modern jika tidak membelinya. Kesadaran budi menjadi tidak berdaya akan hal seperti ini karena yang kita hadapi di sini sudah bukan lagi semata-mata rayuan iklan komoditi melainkan penilaian masyarakat/komunitas kita terhadap apa yang kita konsumsi. Salah-salah kita bisa tersingkir dari komunitas tersebut sehingga merasa identitas diri kita terancam.


Komunitas Membentuk Budaya Konsumtif

Begitu kuatnya budaya konsumtif membuat kita yang menjadi bagian dari suatu komunitas ikut terpengaruh. Ketika pola konsumsi suatu komunitas berubah kita pun mau tidak mau harus mengikutinya. Contoh yang paling kongkrit adalah apa yang saya alami selama berada dalam satu komunitas tertentu. Ketika komunitas tersebut mulai senang untuk nonton di bioskop, mau tidak mau saya pun harus ikut agar merasa tetap eksis dalam komunitas tersebut.

Cara kerjanya begitu sederhana, ketika semua orang ikut kita mau tidak mau juga ikut jika tidak ingin tersingkir dari komunitas. Ketika semua orang merasa gengsi dan modern dengan produk tertentu, kita juda mau tidak mau ikut merasakannya. Ketika komunitas kita konsumtif, kita pun mau tidak mau ikut terpengaruh. Untuk menghadapi budaya seperti ini, kita perlu membentuk suatu budaya atau gaya hidup baru yang tidak berporos pada konsumsi. Tidak hanya gaya hidup kita sebagai pribadi tetapi gaya hidup satu komunitas perlu kita bentuk karena komunitaslah yang akhirnya membentuk budaya kita.