Mekanisme Perdagangan Karbon

Pemanasan global jelas merupakan salah satu isu atau bahkan isu yang paling hangat dibicarakan dalam satu dekade ini. Satu kata yang pasti tidak ketinggalan ketika membahas isu ini adalah ‘karbon’. Karbon, melalui efek rumah kacanya dinilai para ilmuwan sebagai biang keroknya sederetan gejala-gejala seperti meningkatnya suhu rata-rata global, mencairnya es di kutub, naiknya tinggi muka air laut, anomali cuaca sampai meluasnya wabah penyakit tropis dan sebagainya.

Dari sekian banyak hasil pertemuan negara-negara di dunia, muncul berbagai gagasan untuk menghadapi masalah global tersebut. Salah satunya yang patut dicermati adalah ide tentang perdagangan karbon. Secara sederhana, perdagangan karbon adalah suatu mekanisme perdagangan dimana negara yang menghasilkan emisi karbon dari kuota yang ditentukan diharuskan untuk memberikan sejumlah insentif kepada negara yang bisa menyerap karbon melalui proyek penanaman hutannya. Setiap negara/industri mempunyai kuota karbon yang ‘boleh’ diemisikannya. Mekanisme ini juga memperbolehkan industri yang berhasil mengurangi emisinya untuk menjual kredit karbon yang tersisa ke industri lain. Di sini, penyerapan/pengurangan gas karbon menjadi semacam jasa yang bisa diperjualbelikan.


Asal Mulanya

Ide tersebut sebenarnya sudah muncul pada tahun 1997 melalui Protokol Kyoto yang dihasilkan dari Pertemuan Antar Pihak Ke-3 atau Conference of the Parties 3 (COP3). Di dalam protokol ini, negara-negara maju diwajibkan untuk mengurangi emisi karbonnya pada tahun 2012 sebanyak 5 persen dibandingkan dengan emisi tahun 1990.

Beberapa hal penting mengenai mekanisme perdagangan karbon yang disepakati dalam protokol ini adalah bahwa perdagangan karbon hanya bisa melibatkan pohon yang bukan dari hutan alam. Hutan/pohon yang dikembangkan sebelum tahun 1990 juga tidak bisa dilibatkan dalam perhitungan. Selayaknya perdagangan bebas lainnya, perdagangan karbon juga bersifat bebas dimana setiap negara/industri boleh membeli/menjual karbon dari/ke negara/industri mana saja dengan harga sesuai kesepakatan bersama.

Kontroversi

Hingga kini, Protokol Kyoto masih belum diratifikasi oleh semua negara dan ide tentang mekanisme perdagangan karbon masih terus diperdebatkan. Ada banyak hal yang perlu disepakati bersama mengenai aturan perhitungannya. Terutama mengenai bagaimana menghitung kapasitas karbon yang diserap oleh sejumlah pohon dan berapa harga per tiap satuan berat karbon yang harus dibayar.

Selain itu, juga dikhawatirkan terjadinya ketimpangan pola geoekonomi. Dimana negara berkembang bisa terpancing, terbawa ataupun terpaksa menjadi negara penanam pohon sementara negara maju terus menggerakkan roda industrinya dengan “hanya” memberikan sejumlah kompensasi yang disepakati. Dengan demikian, kompensasi yang didapatkan tidak lebih dari sekadar “masuk untuk keluar” setelah kita akhirnya mengonsumsi produk-produk hasil industri negara maju tersebut. Negara maju terus maju, negara berkembang tidak berubah status, negara miskin jadi “negara hutan”.

Pertimbangan di atas tidak serta merta mengindikasikan bahwa ide seperti ini tidak layak dipertimbangkan. Bagaimanapun juga, gambaran dampaknya masih sangat kabur. Terlalu banyak aspek yang berkaitan mengingat penerapannya melibatkan banyak negara. Tidak ada yang tau sebelum benar-benar diterapkan di lapangan. Siapa tahu 5 tahun lagi justru ide inilah yang akhirnya membawakan angin segar di setiap pojok bumi ini. Alih-alih memikirkan sampai sejauh itu, lebih baik kita melakukan hal-hal praktis yang bisa kita lakukan untuk bumi ini.

Blackle, Benarkah Hemat Energi?

Beberapa tahun belakangan ini, semua orang di dunia sedang sibuk-sibuknya membicarakan “global warming”. Bagaimana mengurangi emisi karbon, bagaimana menanam lebih banyak pohon, bagaimana menciptakan produk ramah lingkungan, bagaimana menghemat penggunaan energi, dan seterusnya, dan seterusnya.

Segala ide hemat energi bermunculan sebagai solusi mengurangi efek perubahan iklim. Ternyata halaman situs raksasa dunia Internet, Google, juga bisa dibuat hemat energi. Berangkat dari sebuah artikel yang ditulis Mark Ontkush, Heap Media Australia didukung oleh Google Custom Search mengeluarkan search engine versi gelap yang dinamakan Blackle.

Layar Hitam Hemat Energi?

Berdasarkan artikel Mark Ontkush, jika halaman Google diubah ke versi warna hitam setahunnya kita akan menghemat energi sebanyak 750MWh. Hal ini dimungkinkan karena monitor akan membutuhkan lebih banyak energi untuk menampilkan warna terang (putih) daripada warna gelap (hitam). Dikatakan, sebuah halaman Google putih akan mengkonsumsi energi sekitar 74 watt sedangkan ketika hitam hanya mengkonsumsi sekitar 59 watt.

Jika benar demikian, maka website yang dibuat dalam versi gelap akan turut membantu dalam hal penghematan energi. Tentu saja, sebagai halaman web yang paling banyak diakses oleh pengguna internet, Google dinilai akan banyak berpengaruh jika mengambil langkah tersebut.

Blackle sudah diliris sejak Januari 2007. Hingga kini, blackle mengklaim sudah berhasil menghemat energi lebih dari enam ratus ribu watt jam. Informasi jumlah penghematan energi tersebut akan senantiasa ditampilkan setiap kali mengakses halaman utama Blackle.

Tampilan hasil pencarian juga tidak berbeda dengan menggunakan Google. Hanya saja selain background-nya yang hitam, tulisannya juga dalam warna abu-abu yang gelap. Karena merupakan bagian dari Google Custom Search, Blackle hanya murni sebagai sebuah search engine tanpa fitur-fitur seperti advanced search, language tool, groups, iGoogle dan sebagainya.

Hitam tidak Selalu Hemat

Awalnya, Blackle mendapat cukup banyak perhatian dan pujian karena dianggap sebagai sebuah langkah baru untuk menyelamatkan bumi. Apalagi jika semua web melakukan hal yang sama. Tidak lama kemudian, kemampuan Blackle berkontribusi dalam penghematan energi mulai dipertanyakan. Berbagai komentar bermunculan menanggapi perhitungan yang dilakukan Mark.

Pada kenyataannya, perhitungan seperti ini hanya akan terwujud jika mengasumsikan semua orang menggunakan monitor CRT. Pada jenis monitor LCD, tidak ada perbedaan energi yang dikeluarkan untuk warna hitam maupun putih. Beberapa hasil riset bahkan mengatakan warna hitam lebih memboros energi dibandingkan warna putih. Salah satu test yang dilakukan oleh Techlogg juga menunjukkan monitor LCD rata-rata lebih boros 0,35W untuk menampilkan warna hitam.

Berdasarkan estimasi, monitor LCD digunakan sekitar 75% pengguna komputer. Hal ini berarti mengubah halaman Google menjadi gelap dipastikan tidak akan banyak membantu dalam menghemat energi. Pihak Google sendiri juga menyatakan hal yang sama bahwa berdasarkan analis mereka, Google versi hitam tidak akan mengurangi konsumsi energi.

Terlebih lagi, halaman hasil pencarian Blackle yang gelap cenderung lebih sulit dibaca. Oleh karena itu, tugas pencarian akan lebih lama sehingga penggunaan listrik justru akan lebih banyak.

Blackle, Black Google

Blackle, Black Google

Langkah Kecil untuk Bumi

Terlepas dari itu semua, ide Blackle setidaknya masih cukup membantu kampanye penghematan energi. Setidaknya, turut menyadarkan orang akan pentingnya peran serta tiap orang dalam menghemat penggunaan energi.

Jika anda pengguna komputer yang masih memakai monitor CRT, Blackle tetap saja bisa menjadi pilihan alternatif. Sebagai tambahan, mengubah wallpaper dengan gambar yang lebih gelap juga akan lebih membantu usaha penghematan. Tetapi bagaimanapun, menggunakan monitor jenis LCD akan jauh lebih hemat dalam hal penggunaan energi. Termasuk juga menurunkan nilai brigthness monitor anda baik yang LCD maupun CRT. Apakah anda siap mengambil langkah kecil ini untuk bumi?